Aku Menulis Untuk Mengingat

Aku sering bertanya kapan sih percisnya keluarga besarku bermukim di rumahku sekarang? Sama seringnya dengan pertanyaan kapan ya desaku (banjar sebutan untuk orang bali) terbentuk?.

Mungkin ini pertanyaan yang sangat aneh, tapi ya kalau kita bisa tau asal usulnya bukankah bisa jadi cerita untuk dijual (UUD=Ujung Ujungnya Duit). Nilai tambah akan muncul ketika kita tau sejarah tempat kita tinggal apalagi jika terbukti sudah berdiri ribuan tahun atau sejaman dengan peradaban mesir atau sumeria, mungkin bakalan heboh ya. Sejarah di Indonesia banyak diungkapkan dalam catatan-catatan penjelajah Eropa, ya catatan itu tentunya tulisan. Budaya bangsa kita juga mencatat kejadian-kejadian penting tapi berbeda dengan bangsa Eropa, leluhur kita mencatat lebih dengan simbol sebagai pengingat. Kebanyakan orang kita meneruskan sejarah dengan metode ingatan para tetua kemudian diteruskan ke keturunanya, tentu akan sangat lemah karena ingatan tentu bisa saja terlupakan.

Mereka Menulis Sehingga Diingat

Plato seorang yang hidup dua ribu tahun silam 428–427 SM sampai sekarang masih dibahas catatan dan karyanya. Luar biasa bukan? Seseorang yang hidup dijaman negara Republik Indonesia bahkan masih belum direncanankan tuhan bisa dibicarakan sampai sekarang karena catatanya. Banyak lagi seperti pitagoras, aristotels dan seluruh ilmuan yang gemar menulis tentunya. Aku tau beberapa ilmuan ini ketika SMP karena ketika SMA lebih banyak menghabiskan waktu di kantin, sering disebut bolos. Mari beranjak menggunakan mesin waktu dari sebelum masehi ke awal abad 20. Tan Malaka salah satu idolaku beberapa bukunya sudah kubaca walaupun belum sampai habis. Tan Malaka hidup dijaman perjuangan ya pemikiranya senada dengan romantisme perjuangan kemerdekaan. Ide Republik Indonesia dia tuangkan dalam buku Menuju Republik Indonesia (1925). Satu lagi yang terbayang jika menyebut tokoh yang dikenal karena tulisanya yaitu Gie, Soe Hok Gie. Soe Hok Gie seorang aktivis mahasiswa yang juga pencinta alam, hampir miriplah denganku walaupun persentase kemiripan nggak sampai 5%. Gie, begitu dikenal di kalangan aktivis orde lama berperan besar dalam menumbangkan resim orde lama. Gie dikenang sampai sekarang melalui catatan harianya yang medio tahun dua ribu diangkat ke layar lebar dalam film berjudul Gie.  Kedua tokoh diatas (tanpa mengesampikan tokoh perjuangan lain) menuangkan  pemikiran dan ide-ide mereka dalam sebuah tulisan. Lalu disimpulkanlan oleh opa Pram dalam quote terkenalnya

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” 

sayang kan kalau tidak ikut saranya opa 🙂

Aku Menulis Untuk Mengingat

Dalam blog ini aku memulai kebudayaan menulis paling tidak untuk aku sendiri, untung-untung ada yang baca. Aku menulis untuk mengingat masa-masa yg telah lalu, baik itu cerita buruk dan berharap lebih banyak cerita yang gembira. Karena blog ini sudah Berbayar maka akan kupaksakan menulis seminggu sekali atau paling lambat sebulan sekali, hahaha. Rencana awalnya sih blog ini akan terus mengudara sampai 50 tahun kedepan atau kalau bisa lebih dari itu. Paling tidak 5 tahun dari sekarang aku baca kembali artikel ini dengan cekikikan melihat struktur tulisannya yang amburadul, anggap saja lima tahun dari sekarang aku sudah jadi penulis besar (rencana yg akan jadi kenyataan).

Blogku Akhirnya Berbayar

Hari ini, 1 Mei 2017 aku meluncurkan blog www.pandepratama.com sebagai tempat menuangkan ide, opini dan cerita yang terkumpul dari kehidupan sehari-hari yg terbagi dalam beberapa kategori, anggap saja seperti tugas mengarang jaman SD.

Kali ini berbayar loh!

Ini serius, berbayar!  Setelah beberapa blog gratisan pernah aku kelola sejak mengenal internet awal-awal tahun 2010. Mulai dari pandepratama.blogspot.com sayadengar.wordpress.com  merdeka-bebas.blogspot.com yg kesemuanya berakhir tragis tak mendapat perhatian.

Baiklah demikian pembuka blog ini, sudah ada beberapa tulisan yang siap diupload seminggu kedepan. Semoga blog berbayar ini tidak berakhir tragis seperti blog-blogku sebelumnya.

Terima Kasih